Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Serikat (AS) bersedia menggunakan kekuatan militer di . Trump disebut tak takut menggunakan kekuatan mematikan dan kekuatan militer AS dalam intervensi terhadap Iran.
“(Trump) Selalu menyatakan bahwa diplomasi adalah pilihan pertama. Namun, dia tidak takut menggunakan kekuatan mematikan dan kekuatan militer Amerika Serikat, jika dan ketika dia menganggapnya perlu,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada Fox News dilansir Al Jazeera, Selasa (13/1/2026).
“Tidak ada yang lebih tahu tentang hal itu selain rezim Iran,” sambungnya.
Leavitt menyebut tidak ada yang mengetahui langkah Trump selanjutnya usai mengancam bakal melakukan intervensi militer di Iran.
“Apa yang akan dilakukan Presiden Trump selanjutnya, hanya dia yang tahu, jadi dunia harus terus menunggu dan menebak,” kata Leavitt.
Leavitt mengatakan Iran menjalin komunikasi tertutup secara langsung dengan Trump. Dalam komunikasi tertutup itu, Iran disebut mengirimkan pesan yang berbeda seperti yang dilakukan di hadapan publik.
“Apa yang dikatakan rezim Iran secara publik sangat berbeda dengan pesan yang mereka kirimkan kepada Amerika Serikat dan pemerintahan Trump secara pribadi,” kata Leavitt.
Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang isi percakapan tersebut.
Diketahui, Iran dilanda kerusuhan meluas hingga mengakibatkan 500 orang meninggal. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung tiga hari untuk menghormati warganya yang tewas.
Pengumuman itu dibuat oleh pemerintah Iran pada Minggu (11/1) waktu setempat. Pemerintah menyebut mereka yang meninggal sebagai ‘martir gerakan perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis’.
“Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian, tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga saat ini,” kata Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dilansir CNN International, Senin (12/1).
Lebih dari 100 anggota pasukan keamanan Iran telah tewas sejak dimulainya protes. Sementara 500 demonstran dilaporkan telah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap selama 15 hari terakhir, berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA).
Pemerintah Iran juga meminta rakyatnya untuk terus melawan Amerika dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezekshkian mengajak rakyat Iran untuk turun ke jalan hari Senin (12/1) dalam pawai nasional mengecam kekerasan yang dituding Iran didalangi dua negara tersebut.
Klaim Iran Jalin Komunikasi Tertutup
Diketahui, Iran dilanda kerusuhan meluas hingga mengakibatkan 500 orang meninggal. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung tiga hari untuk menghormati warganya yang tewas.
Pengumuman itu dibuat oleh pemerintah Iran pada Minggu (11/1) waktu setempat. Pemerintah menyebut mereka yang meninggal sebagai ‘martir gerakan perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis’.
“Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian, tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga saat ini,” kata Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dilansir CNN International, Senin (12/1).
Lebih dari 100 anggota pasukan keamanan Iran telah tewas sejak dimulainya protes. Sementara 500 demonstran dilaporkan telah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap selama 15 hari terakhir, berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA).
Pemerintah Iran juga meminta rakyatnya untuk terus melawan Amerika dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezekshkian mengajak rakyat Iran untuk turun ke jalan hari Senin (12/1) dalam pawai nasional mengecam kekerasan yang dituding Iran didalangi dua negara tersebut.







