Didepak RI, Kontainer Radioaktif Akhirnya Dibawa Filipina ke Tempat Aman

Posted on

Sebanyak 23 kontainer berisi seng radioaktif, yang terdampar selama berbulan-bulan di Teluk Manila, , akhirnya dievakuasi ke daratan. Otoritas Filipina menyebut kontainer itu telah dibawa ke “tempat yang aman”.

Sebanyak 23 kontainer tersebut tiba di Manila dengan kapal MV Hansa Augsburg pada akhir September 2025, setelah otoritas “menolak dan mengekspor ulang” kontainer-kontainer itu usai menemukan jejak .

Otoritas Jakarta mengirimkan kembali kontainer-kontainer tersebut saat memperketat impor besi dan baja bekas di tengah skandal dugaan kontaminasi radioaktif pada produk-produk makanan.

Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut, seperti dilansir AFP, Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa puluhan kontainer itu diturunkan di pelabuhan Manila pada Minggu (11/1) pagi, sekitar pukul 10.27 waktu setempat.

Direktur Institut Penelitian Nuklir Filipina (PNRI), Carlo Arcilla, mengatakan kepada AFP bahwa muatan seng radioaktif tersebut sekarang sedang menunggu solusi jangka menengah, dengan penyimpanan di fasilitas militer Teluk Subic sebagai pilihan yang mungkin.

Dia menolak untuk mengatakan di mana kontainer-kontainer itu berada saat ini. Tetapi seorang pejabat lainnya yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa kontainer-kontainer tersebut berada di area penyimpanan sementara di luar area Metro Manila.

“(Otoritas Metropolitan Teluk Subic) Terbuka terhadap gagasan itu karena mereka memiliki bunker amunisi di sana selama Perang Dunia II. Saya telah melihat bunker-bunker itu; kondisinya bagus,” kata Arcilla, sembari menekankan bahwa tingkat kontaminasinya rendah.

Para awak kapal yang membawa kontainer itu telah dites dan hasilnya negatif untuk radiasi. Baik otoritas Filipina maupun Indonesia belum mengungkapkan tingkat radiasi dalam kontainer tersebut.

Lebih lanjut, Arcilla mengatakan bahwa solusi akhir dapat melibatkan penyegelan pengiriman tersebut di fasilitas bawah tanah yang dibangun khusus.

Debu seng, yang merupakan muatan kontainer itu, adalah produk sampingan dari produksi baja. Pada Oktober lalu, Arcilla mengatakan bahwa muatan debu seng itu diekspor ke Indonesia oleh Zannwann International Trading Corp, setelah diperoleh dari perusahaan daur ulang lokal Steel Asia.

Aktivis Greenpeace Philippines, Jefferson Chua, telah memperingatkan bahwa paparan Cesium-137 dalam level rendah pun membawa “risiko kanker jangka panjang dan dapat menyebabkan kontaminasi lingkungan berkelanjutan”.

Isotop radioaktif, yang dihasilkan melalui reaksi nuklir, digunakan dalam berbagai aplikasi industri, medis, dan penelitian.

Lebih lanjut, Arcilla mengatakan bahwa solusi akhir dapat melibatkan penyegelan pengiriman tersebut di fasilitas bawah tanah yang dibangun khusus.

Debu seng, yang merupakan muatan kontainer itu, adalah produk sampingan dari produksi baja. Pada Oktober lalu, Arcilla mengatakan bahwa muatan debu seng itu diekspor ke Indonesia oleh Zannwann International Trading Corp, setelah diperoleh dari perusahaan daur ulang lokal Steel Asia.

Aktivis Greenpeace Philippines, Jefferson Chua, telah memperingatkan bahwa paparan Cesium-137 dalam level rendah pun membawa “risiko kanker jangka panjang dan dapat menyebabkan kontaminasi lingkungan berkelanjutan”.

Isotop radioaktif, yang dihasilkan melalui reaksi nuklir, digunakan dalam berbagai aplikasi industri, medis, dan penelitian.