Bencana banjir dan tanah longsor di utara Pulau masih menyisakan duka bagi banyak pihak. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT), Yandri Susanto, mengungkap di Sumatera membuat 29 desa di Aceh dan Sumatera Utara hilang bahkan ada yang menjadi sungai.
Yandri mengatakan hal tersebut saat Rapat Kerja Komisi V DPR bersama seluruh mitra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1). Ia mengatakan banyak desa di Aceh dan Sumatera Utara yang melebur bersama banjir.
“Desa-desanya ada yang menjadi sungai. Jadi banyak desa yang selama ini ada di sempadan sungai, ketika banjir, sungai pindah ke desa itu. Jadi desanya benar-benar hilang,” kata Yandri dalam rapat.
Namun Yandri mengatakan penduduk desa tetap ada meski wilayah desa hilang. Dia mengatakan kepala desa beserta perangkatnya masih tercatat dan kini mengungsi.
“Tapi penduduknya, termasuk kepala desanya dan perangkat lainnya tetap ada, mengungsi. Jadi ini mungkin yang PR terberat di kami,” ujarnya.
Untuk Diketahui, berdasarkan data BNPB pada Selasa (27/1) korban tewas bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.201 orang. Selain itu, 113.600 orang disebut masih mengungsi.
Total wilayah terdampak bencana di tiga provinsi itu mencapai 53 kabupaten/kota. Ada 175.050 rumah yang rusak akibat bencana.
Berdasarkan data per 12 Januari 2026, Yandri mengatakan sebanyak 29 desa di enam kabupaten atau kota kehilangan wilayahnya akibat bencana. Rinciannya, 21 desa berada di Aceh dan delapan desa di Sumatera Utara.
“Dilaporkan jumlah desa yang hilang wilayahnya sebanyak 29 desa di 6 kabupaten/kota, yaitu di Aceh ada 21 desa. Ini benar-benar hilang. Ada yang tadi saya bilang ada jadi sungai, ada yang tertimbun lumpur. Jadi sudah, desanya sudah nggak ada. Termasuk bangunannya dan sarana-prasarananya sudah nggak ada sama sekali,” jelas dia.
“Di Sumut ada 8 desa. Kemudian, di Provinsi Sumbar tidak terdapat desa yang hilang,” sambungnya.
Yandri mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan terhadap desa-desa yang hilang tersebut. Dia mengatakan penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Yandri mengatakan pemerintah juga telah melakukan pemetaan dan pemutakhiran data desa terdampak. Kemudian, melakukan penyusunan perencanaan, serta penyediaan lahan relokasi yang aman dan tak rawan bencana.
“Kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ini ada rumah, tentu ada kelengkapannya sarana air bersih, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UMKM, bumdes, kopdes, dan tentu ada pasar desa,” tuturnya.
Berdasarkan data per 12 Januari 2026, Yandri mengatakan sebanyak 29 desa di enam kabupaten atau kota kehilangan wilayahnya akibat bencana. Rinciannya, 21 desa berada di Aceh dan delapan desa di Sumatera Utara.
“Dilaporkan jumlah desa yang hilang wilayahnya sebanyak 29 desa di 6 kabupaten/kota, yaitu di Aceh ada 21 desa. Ini benar-benar hilang. Ada yang tadi saya bilang ada jadi sungai, ada yang tertimbun lumpur. Jadi sudah, desanya sudah nggak ada. Termasuk bangunannya dan sarana-prasarananya sudah nggak ada sama sekali,” jelas dia.
“Di Sumut ada 8 desa. Kemudian, di Provinsi Sumbar tidak terdapat desa yang hilang,” sambungnya.
Yandri mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan terhadap desa-desa yang hilang tersebut. Dia mengatakan penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
Yandri mengatakan pemerintah juga telah melakukan pemetaan dan pemutakhiran data desa terdampak. Kemudian, melakukan penyusunan perencanaan, serta penyediaan lahan relokasi yang aman dan tak rawan bencana.
“Kelima, rekonstruksi sarana dan prasarana dasar. Ini ada rumah, tentu ada kelengkapannya sarana air bersih, sarana pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Pemulihan ekonomi, ini penting di tingkat desa nanti. Ada desa tematik, UMKM, bumdes, kopdes, dan tentu ada pasar desa,” tuturnya.







