Bareskrim menyita tumpukan uang dan hingga senilai Rp 96,7 miliar. Jumlah itu berasal dari pengungkapan kasus sindikat perjudian online (judol) dan pengembangan Laporan Hasil Analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (LHA PPATK).
Dengan rincian pengungkapan dari website judol Rp 59.126.460.631 dan tiga LHA PPATK sebesar Rp 37.650.717.250.
“Jadi dua sumber, satu dari mekanisme reguler artinya temuan patroli siber kemudian ditindak lanjuti. Itu sekitar Rp 58 miliar sekian,” kata Himawan dalam jumpa pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Sekatan, Kamis (8/1/2025).
“Kemudian yang kedua sumber dari LHA PPATK, yang ini menindaklanjuti hasil analisis transaksi keuangan PPATK, itu sekitar Rp 37 miliar. Jadi hampir Rp 96 miliar sekian,” lanjutnya.
Kasus Judol
Dittipidsiber Bareskrim Polri menemukan 10websitejudol melalui patroli siber. Setelah dikembangkan, ditemukan kembali 11websitelain.
“Sehingga totalnya 21 website perjudian online, 21 website itu adalah SPINHARTA4, SASAFUN, RI188, ST789, SLOIDR, E88VIP, I777, X88VIP, 53N, BMW312, SVIP5U, OKGAME, E88VIP, REMI101N, IDAGAME, dan H5HIWIN,” jelas Himawan.
“Bahwa website-website ini menawarkan jenis permainan yang beragam, meliputi slot, kasino, judi bola, dan lain-lain,” lanjutnya.
Sebanyak 21websitejudol itu beroperasi nasional dan internasional. Dari pengembangan web judol ini juga ditemukan adanya aliran dana dari 11 penyedia jasa pembayaran.
Tak hanya itu, penyidik juga menemukan 17 perusahaan fiktif yang sengaja dibuat untuk memfasilitasi transaksi judol. Penyidik menetapkan lima orang sebagai tersangka, yakni MNF (30), MR (33), QF (29), AL (33), dan WK (45).
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
“Dari 17 perusahaan yang ditemukan tersebut, 15 perusahaan digunakan untuk memfasilitasi pembayaran atau deposit pemain melalui metode QRIS sebagai layering pertama, dan 2 perusahaan digunakan secara aktif untuk menampung dana perjudianonline,” ungkap Himawan.
“Dari hasil pengungkapan jaringan ini, Bareskrim Polri berhasil melakukan pemblokiran dan penyitaan dana dengan total Rp 59.126.460.631,” sambungnya.
Di sisi lain, penyidik juga menyita uang hingga aset dengan total nilai Rp 37,6 miliar dari sindikat praktik perjudianonline. Penyitaan itu berdasarkan laporan hasil analisis LHA PPATK.
Dari LHA itu telah diterbitkan tiga laporan polisi untuk mengusut tuntas perkara judionlineyang dilaporkan oleh PPATK. “Saat ini Direktorat Siber Bareskrim Polri menangani tiga laporan polisi melalui mekanisme Perma Nomor 1 Tahun 2013 dengan total penyitaan Rp 37.650.717.250,” tutur Himawan.
Tiga laporan polisi itu adalah LP/A/562/IX/2022 yang berkaitan dengan situs judol Slotter, Olympus Gacor, Maxwin, Kakek Slot, Panda Slotter, NLS King Cobra, hingga DP Maxwin.
“Dalam penanganan LP ini telah dilakukan tiga tahap penyitaan, yaitu pada tahap pertama dan kedua telah dilaksanakan pada April dan Juli 2025. Dan penyitaan tahap ketiga yang saat ini kami sampaikan kepada rekan-rekan sebesar Rp 33.870.716.318 dari 142 rekening,” papar Himawan lagi.
Selanjutnya LP/A/10/III/2025/SPKT Bareskrim Polri tertanggal 23 Juli 2025. Laporan itu terkait dengan situs judionline’Kedai 69′. Dalam perkara ini, penyidik melakukan penyitaan sebesar Rp 92.645.089 dari 15 rekening.
Kemudian, LP/A/23/VII/2025/SPKT Bareskrim Polri tertanggal 23 Juli 2025, yang berkaitan dengan situs judionline’Abadi Cash’. Penyidik melakukan penyitaan uang Rp 3.687.355.843 dari 30 rekening.
“Dan aset fisik yang juga kita lakukan penyitaan antara lain adalah 2 unit kendaraan roda empat dan 1 unit ruko” pungkasnya.
LHA PPATK
“Bahwa website-website ini menawarkan jenis permainan yang beragam, meliputi slot, kasino, judi bola, dan lain-lain,” lanjutnya.
Sebanyak 21websitejudol itu beroperasi nasional dan internasional. Dari pengembangan web judol ini juga ditemukan adanya aliran dana dari 11 penyedia jasa pembayaran.
Tak hanya itu, penyidik juga menemukan 17 perusahaan fiktif yang sengaja dibuat untuk memfasilitasi transaksi judol. Penyidik menetapkan lima orang sebagai tersangka, yakni MNF (30), MR (33), QF (29), AL (33), dan WK (45).
“Dari 17 perusahaan yang ditemukan tersebut, 15 perusahaan digunakan untuk memfasilitasi pembayaran atau deposit pemain melalui metode QRIS sebagai layering pertama, dan 2 perusahaan digunakan secara aktif untuk menampung dana perjudianonline,” ungkap Himawan.
“Dari hasil pengungkapan jaringan ini, Bareskrim Polri berhasil melakukan pemblokiran dan penyitaan dana dengan total Rp 59.126.460.631,” sambungnya.
Di sisi lain, penyidik juga menyita uang hingga aset dengan total nilai Rp 37,6 miliar dari sindikat praktik perjudianonline. Penyitaan itu berdasarkan laporan hasil analisis LHA PPATK.
Dari LHA itu telah diterbitkan tiga laporan polisi untuk mengusut tuntas perkara judionlineyang dilaporkan oleh PPATK. “Saat ini Direktorat Siber Bareskrim Polri menangani tiga laporan polisi melalui mekanisme Perma Nomor 1 Tahun 2013 dengan total penyitaan Rp 37.650.717.250,” tutur Himawan.
Tiga laporan polisi itu adalah LP/A/562/IX/2022 yang berkaitan dengan situs judol Slotter, Olympus Gacor, Maxwin, Kakek Slot, Panda Slotter, NLS King Cobra, hingga DP Maxwin.
“Dalam penanganan LP ini telah dilakukan tiga tahap penyitaan, yaitu pada tahap pertama dan kedua telah dilaksanakan pada April dan Juli 2025. Dan penyitaan tahap ketiga yang saat ini kami sampaikan kepada rekan-rekan sebesar Rp 33.870.716.318 dari 142 rekening,” papar Himawan lagi.
Selanjutnya LP/A/10/III/2025/SPKT Bareskrim Polri tertanggal 23 Juli 2025. Laporan itu terkait dengan situs judionline’Kedai 69′. Dalam perkara ini, penyidik melakukan penyitaan sebesar Rp 92.645.089 dari 15 rekening.
Kemudian, LP/A/23/VII/2025/SPKT Bareskrim Polri tertanggal 23 Juli 2025, yang berkaitan dengan situs judionline’Abadi Cash’. Penyidik melakukan penyitaan uang Rp 3.687.355.843 dari 30 rekening.
“Dan aset fisik yang juga kita lakukan penyitaan antara lain adalah 2 unit kendaraan roda empat dan 1 unit ruko” pungkasnya.
