mangkrak di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan sedang berjalan. Warga berharap pembongkaran tiang monorel bisa lebih cepat dari target.
Kurang lebih ada 109 tiang monorel yang akan dipotong dan ditata ulang sebagai bagian dari penataan kawasan. Setelah proses pemotongan rampung, pemerintah akan melanjutkan penataan jalan, selokan, trotoar, hingga penerangan umum di kawasan tersebut.
Pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap dan dikerjakan pada malam hari mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB. Skema ini dipilih agar pekerjaan tidak mengganggu arus lalu lintas di Jalan Rasuna Said yang dikenal padat.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan tidak ada penutupan jalan selama pekerjaan berlangsung.
“Tidak ada penutupan jalan. Penutupan hanya di lajur lambat dan dilakukan staging. Arus dari lajur cepat tetap bisa masuk ke lajur lambat,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran lalu lintas, Dishub DKI bersama Satpol PP menyiagakan sekitar 30 personel setiap malam. Pemotongan dilakukan dengan skema satu tiang satu malam agar proses berjalan aman dan terkontrol.
Hingga Jumat (16/1/2026), dua tiang monorel di Jalan Rasuna Said telah dibongkar. Pantauan di lokasi menunjukkan bekas beton tiang ditutup lakban kuning hitam dan diberi barier beton di atasnya.
Satu tiang berada di ujung jalan dari arah Menteng menuju Pancoran, sementara satu lainnya tepat di depan Halte Transjakarta Setiabudi. Sementara itu, tiang monorel lain yang belum dibongkar tampak diberi penanda lakban kuning hitam pada bagian besinya yang menjulang.
Seorang warga bernama Jackson (44) menyebut sebelum dibongkar, tiang monorel tersebut kerap ditabrak pengendara, terutama pada malam hari.
“Malam biasa. Mobilnya ringsek,” ujarnya saat ditemui di kawasan Rasuna Said.
Warga menaruh harapan pada penataan jalan setelah pembongkaran selesai. Jackson berharap ruas jalan Rasuna Said arah Pancoran dapat disederhanakan menjadi satu jalur agar lalu lintas lebih lancar.
“Ya lebih bagus dibikin begitu, jadi disamain sama yang seberang gitu jalannya. Nggak semrawut. Orang kan kadang udah ada plang di situ kan, nggak bisa, kadang masuk aja. Jadi semrawut, bikin macet kan. Kalau dibikin kayak di sebrang, udah plong aja orang ke sana,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).
“Ada jalur lambat, jalur cepat itu pengaruhnya. Kalau disamain kayak yang disebrang kan nggak macet, langsung plong itu jalananya. Jadi satu ruas jalan, jadi lancar,” imbuhnya.
Warga lainnya, Miftah (28) berharap pembongkaran lebih cepat selesai. Dia menilai tiang monorel itu bisa membahayakan pengendara jika terus dibiarkan.
“Semoga cepat selesai pembongkarannya, semoga sesuai targetnya,” kata Miftah (28) saat ditemui di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembongkaran tiang monorel yang telah mangkrak hampir 22 tahun ini menjadi penanda penataan serius Pemprov DKI terhadap fasilitas publik yang terbengkalai. Ditargetkan pembongkaran selesai September.
“Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang. Mudah-mudahan September selesai,” kata Pramono, Rabu (14/1/2026).
Pramono menegaskan biaya pembongkaran tiang monorel tidak besar, yakni sekitar Rp 254 juta. Dia meluruskan anggaran Rp 100 miliar termasuk untuk penataan jalan.
“Yang Rp 100 miliar itu bukan untuk motong tiangnya. Motongnya hanya Rp 254 juta. Yang besar itu penataannya,” jelasnya.
Pramono menyebut proyek monorel tersebut telah mangkrak selama lebih dari dua dekade dan berstatus idle. Karena itu, menurutnya, penyelesaian harus dilakukan dengan kehati-hatian, terutama dari sisi hukum dan administrasi aset.
Ia menegaskan pembongkaran tiang monorel bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Pemprov DKI telah melakukan kajian mendalam serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum sebelum memulai pekerjaan di lapangan.
Sudah 2 Tiang Monorel Dibongkar
Warga Dukung Penataan Rasuna Said
Target Selesai September 2026
Warga menaruh harapan pada penataan jalan setelah pembongkaran selesai. Jackson berharap ruas jalan Rasuna Said arah Pancoran dapat disederhanakan menjadi satu jalur agar lalu lintas lebih lancar.
“Ya lebih bagus dibikin begitu, jadi disamain sama yang seberang gitu jalannya. Nggak semrawut. Orang kan kadang udah ada plang di situ kan, nggak bisa, kadang masuk aja. Jadi semrawut, bikin macet kan. Kalau dibikin kayak di sebrang, udah plong aja orang ke sana,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).
“Ada jalur lambat, jalur cepat itu pengaruhnya. Kalau disamain kayak yang disebrang kan nggak macet, langsung plong itu jalananya. Jadi satu ruas jalan, jadi lancar,” imbuhnya.
Warga lainnya, Miftah (28) berharap pembongkaran lebih cepat selesai. Dia menilai tiang monorel itu bisa membahayakan pengendara jika terus dibiarkan.
“Semoga cepat selesai pembongkarannya, semoga sesuai targetnya,” kata Miftah (28) saat ditemui di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2026).
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan pembongkaran tiang monorel yang telah mangkrak hampir 22 tahun ini menjadi penanda penataan serius Pemprov DKI terhadap fasilitas publik yang terbengkalai. Ditargetkan pembongkaran selesai September.
“Jumlah tiangnya ada 109 sampai dengan ujung Jalan Rasuna Said. Ini akan ditata rapi dan mudah-mudahan kemacetan juga akan berkurang. Mudah-mudahan September selesai,” kata Pramono, Rabu (14/1/2026).
Pramono menegaskan biaya pembongkaran tiang monorel tidak besar, yakni sekitar Rp 254 juta. Dia meluruskan anggaran Rp 100 miliar termasuk untuk penataan jalan.
“Yang Rp 100 miliar itu bukan untuk motong tiangnya. Motongnya hanya Rp 254 juta. Yang besar itu penataannya,” jelasnya.
Pramono menyebut proyek monorel tersebut telah mangkrak selama lebih dari dua dekade dan berstatus idle. Karena itu, menurutnya, penyelesaian harus dilakukan dengan kehati-hatian, terutama dari sisi hukum dan administrasi aset.
Ia menegaskan pembongkaran tiang monorel bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru. Pemprov DKI telah melakukan kajian mendalam serta berkoordinasi dengan aparat penegak hukum sebelum memulai pekerjaan di lapangan.
