menekankan soal tugas utama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) adalah menyiapkan narapidana (napi) menjadi pribadi yang lebih baik saat kembali ke tengah masyarakat. Oleh sebab itu, Menteri Agus mendorong peningkatan kualitas maupun kuantitas balai pelatihan kerja untuk para napi, sejak awal menjabat
Pembinaan yang berorientasi pada kemandirian ekonomi dan kualitas sumber daya manusia (SDM). Salah satunya dengan memaksimalkan program kesetaraan pendidikan bagi para napi.
“Mudah-mudahan ini bisa berlanjut dan terus dikembangkan. Untuk mempersiapkan warga binaan pemasyarakatan kembali ke masyarakat,” ucap Menteri Agus dikutip infocom dari video yang diunggah di Instagram @.id pada Senin (26/2/2026).
Mengutip dari laman situs Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Imipas, lapas-lapas memiliki program penyetaraan jenjang pendidikan, termasuk di Lapas Perempuan Kelas III Manokwari, Papua Barat dan Lapas Kelas IIB Brebes, Jawa Tengah.
Lapas Perempuan Kelas III Manokwari
Di Lapas Perempuan Kelas III Manokwari, terdapat tujuh warga binaan atau narapidana (napi) mengikuti Pendidikan kesetaraan Paket B dan C. Pihak lapas menyebut pendidikan merupakan bagian penting dalam pembinaan kepribadian napi.
“Kami berkomitmen memfasilitasi hak pendidikan Warga Binaan. Pembelajaran ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan membentuk pola pikir positif bagi masa depan mereka,” kata Kepala Lapas Perempuan Manokwari, Lince Bela.
Lapas Kelas III Manokwari menggandeng Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Penabur Papua Barat, dalam program ini. Tujuh napi yang ikut program di antaranya empat peserta Paket C dan tiga peserta Paket B.
Pada Rabu (21/1), guru bernama Prily memandu pelajaran dengan materi Perubahan Sosial dan Globalisasi. Materi disampaikan dengan metode diskusi interaktif serta tanya-jawab.
Metode ini bertujuan mendorong partisipasi aktif 7 napi. Sehingga, lanjut Lince, napi terlatih menyampaikan pendapat, saling menghargai, terbangun kepercayaan dirinya, mampu bersosialisasi. Sikap-sikap ini ditanamkan sebagai bekal saat napi kembali ke masyarakat.
Sementara itu Kepala Subseksi Pembinaan, Hasnawati, menambahkan pembelajaran interaktif menjadi sarana pembinaan yang efektif. Lapas Perempuan Manokwari berharap kerja sama program pendidikan kesetaraan Paket B dan C ini dapat terus berjalan dan berkelanjutan, karena salah satu wujud pembinaan yang humanis dan berorientasi pada masa depan napi.
“Interaksi dalam proses belajar melatih Warga Binaan untuk berkomunikasi dan beradaptasi secara positif,” jelasnya.
Salah satu Warga Binaan berinisial M bersyukur dapat mengikuti kegiatan tersebut. “Saya senang bisa kembali belajar dan berdiskusi. Kegiatan ini memotivasi saya untuk terus memperbaiki diri,” tuturnya.
Lapas Kelas IIB Brebes
Sama seperti lapas lainnya, Lapas Kelas IIB Brebes menghadirkan pembinaan yang berorientasi pada peningkatan kualitas SDM napi. Pelaksanaan dilakukan dengan menggandeng PKBM Sakila Kerti Kota Tegal, Sabtu (24/1).
Tak hanya paket B dan C, Lapas Brebes juga menyediakan program Paket A. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara rutin setiap Sabtu pagi di lingkungan Lapas dengan pendampingan tenaga pendidik dari PKBM Sakila Kerti.
Kepala Lapas Brebes, Gowim Mahali, menegaskan pendidikan kesetaraan merupakan instrumen penting dalam proses Pemasyarakatan. Sementara itu, perwakilan tenaga pendidik PKBM Sakila Kerti Kota Tegal, Yuni Wulandari, menyampaikan antusiasme Warga Binaan dalam mengikuti pembelajaran cukup tinggi.
“Dukungan Lapas Brebes menjadi faktor penting keberlanjutan program pendidikan kesetaraan di Lapas,” ujar Yuni.
