menggelar Youth Green Policing Eco Academy yang diikuti oleh 1.000 pelajar se-Provinsi Riau. Forum ini mengajak generasi muda khususnya pelajar untuk membuat perubahan demi alam dan lingkungan yang lebih baik di Bumi Lancang Kuning.
Kegiatan yang digelar di GOR Tri Buana, Pekanbaru ini dihadiri oleh Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan selaku orator. Hadir juga founder Tumbuh Institute Rocky Gerung, Guru Besar Filsafat Sosial Universitas Negeri Jakarta Robertus Robet, dan Aktivis Lingkungan Sherly Annavita.
Dalam orasinya, Kapolda menyampaikan bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu dimulai dari anak-anak muda yang memilih untuk tidak diam. Menurutnya, kepemimpinan tidak identik dengan jabatan atau kekuasaan, melainkan lahir dari keberanian untuk bertindak ketika banyak orang memilih bersikap pasif.
“Kalian tidak harus menjadi pejabat untuk berdampak, dan tidak harus menjadi tokoh terkenal untuk berarti. Kalian hanya perlu menjadi generasi yang peduli, berani, dan bertanggung jawab,” ujar Irjen Herry, Kamis (15/1/2026).
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Ia mencontohkan tindakan-tindakan sederhana yang memiliki dampak besar seperti tidak membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk menjaga sungai, tidak menyebarkan hoaks sebagai cara merawat kedamaian sosial, serta berani melaporkan perusakan lingkungan sebagai wujud menjaga masa depan.
“Kepemimpinan yang paling murni justru lahir dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten,” imbuhnya.
Kapolda Riau juga menekankan bahwa generasi muda hari ini hidup di tengah tantangan tiga krisis besar, yakni krisis iklim, krisis kepercayaan, dan krisis kepedulian. Krisis iklim tidak lagi menjadi isu yang jauh, melainkan hadir dalam banjir yang semakin sering, kemarau yang makin panjang, serta kabut asap yang pernah menutup langit Riau.
Namun, ia menegaskan bahwa arah krisis tersebut ditentukan oleh pilihan manusia, antara merawat atau merusak, peduli atau mengabaikan.
“Cara kita memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi setelah kita. Hutan ini bukan warisan dari leluhur kita, tetapi titipan dari anak cucu kita di masa yang akan datang,” tegasnya.
Pada aspek sosial, Irjen Herry mengingatkan bahwa krisis kepercayaan ditandai dengan mudahnya hoaks menyebar dan kebencian menjadi lebih viral dibandingkan kebaikan. Ia menekankan pentingnya etika digital, verifikasi informasi, serta keberanian untuk bersikap jujur sebagai fondasi membangun kembali kepercayaan publik, baik antarwarga maupun terhadap institusi.
“Setiap kali kalian memilih berkata jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang menenun kembali benang kepercayaan yang rapuh itu. Itu adalah kerja kepemimpinan, meskipun sering tidak terlihat,” imbuh jenderal bintang dua itu.
Kapolda Riau menegaskan bahwa masa depan tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dibangun oleh pilihan-pilihan kecil yang dibuat setiap hari dengan memilih untuk peduli, memilih untuk jujur, menjaga alam, dan menjaga sesama. Pilihan-pilihan itulah, menurutnya, yang akan menentukan masa depan Riau dan Indonesia.
“Kalian bukan hanya sedang membangun masa depan kalian sendiri. Kalian sedang membangun masa depan Riau dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.
Tantangan Krisis Lingkungan








