Para staf Kedutaan Besar di telah meninggalkan negara tersebut, saat besar-besaran meluas dan diwarnai kerusuhan. Mereka yang telah meninggalkan Teheran, ibu kota Iran, merupakan para staf non-esensial.
Laporan media lokal Prancis yang mengutip sejumlah sumber, seperti dilansir Anadolu Agency dan AFP, Selasa (13/1/2025), menyebutkan bahwa para personel Kedutaan Besar Prancis itu telah meninggalkan wilayah Iran sejak Minggu (11/1) dan Senin (12/1) waktu setempat.
Namun, tidak disebutkan lebih lanjut soal berapa banyak staf non-esensial yang telah meninggalkan Teheran.
Kedutaan besar asing di ibu kota biasanya memiliki sekitar 30 staf ekspatriat, serta belasan staf lokal.
Iran diguncang gelombang protes sejak bulan lalu, yang dimulai pada 28 Desember di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Aksi protes itu meluas ke beberapa kota lainnya dan berkembang menjadi gerakan lebih luas yang menantang pemerintahan teokratis yang berkuasa di Iran sejak revolusi tahun 1979 silam.
Unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan dan rentetan tindak kekerasan, namun sejauh ini tidak ada angka resmi untuk korban jiwa yang dirilis pemerintah Iran.
Pemerintah Iran menuduh aksi protes itu ditunggangi kekuatan asing yang mengobarkan kerusuhan dan memancing tindak kekerasan. Presiden Iran menuduh (AS) dan “menebar kekacauan dan ketidakstabilan” dengan memicu kerusuhan di negaranya.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran mengatakan ada bukti jelas yang menghubungkan tindak kekerasan mematikan selama unjuk rasa dengan badan intelijen Israel, Mossad.
Di sisi lain, penindakan keras oleh otoritas Teheran terhadap demonstran dilaporkan memicu banyak korban jiwa. Data terbaru dari kelompok HAM yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan sedikitnya 572 orang tewas akibat penindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran.
Sebagian besar korban tewas merupakan para demonstran, dengan puluhan korban tewas di antaranya merupakan anggota pasukan keamanan Iran. Lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
HRANA juga melaporkan bahwa setidaknya 10.681 orang telah ditahan di sebanyak 585 lokasi di berbagai wilayah Iran, termasuk 186 kota di semua 31 provinsi.
Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran mengatakan ada bukti jelas yang menghubungkan tindak kekerasan mematikan selama unjuk rasa dengan badan intelijen Israel, Mossad.
Di sisi lain, penindakan keras oleh otoritas Teheran terhadap demonstran dilaporkan memicu banyak korban jiwa. Data terbaru dari kelompok HAM yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebutkan sedikitnya 572 orang tewas akibat penindakan keras otoritas Iran terhadap demonstran.
Sebagian besar korban tewas merupakan para demonstran, dengan puluhan korban tewas di antaranya merupakan anggota pasukan keamanan Iran. Lebih dari 1.000 orang lainnya mengalami luka-luka.
HRANA juga melaporkan bahwa setidaknya 10.681 orang telah ditahan di sebanyak 585 lokasi di berbagai wilayah Iran, termasuk 186 kota di semua 31 provinsi.
